Bagaimana Kursus Link Building Gratisan Membantu Saya Mendapatkan “Gaji” $500+

Saya dulu web designer yang fokus pada CMS Joomla! yang kemudian beralih ke WordPess ketika WordPress mempunyai fitur custom post type. Awalnya saya menjajakan jasa untuk klien Indonesia saja. Kemudian saya mulai mendapatkan klien dari luar negeri.

Saya lupa mengapa saya tertarik pada SEO. Tapi saya masih ingat klien SEO pertama saya adalah seorang wanita Australia. Job-nya waktu itu hanya riset keywords.

Klien SEO kedua saya adalah orang Panama. Sebenarnya dia hire saya untuk membangun website berbasis WordPress untuk bisnis perkapalannya. Setelah selesai, dia menawari saya untuk mengerjakan SEO beberapa website miliknya.

Saya sudah pernah bilang padanya bahwa saya tidak bisa SEO. Namun penawaran dia kira-kira seperti ini, “Kamu mau nggak ngerjain SEO buat situs-situs saya? Nggak masalah kamu nggak bisa SEO, kamu bisa bekerja sambil belajar. Setiap dua minggu kamu akan saya bayar via Paypal.”

Singkat kata, saya menerima tawarannya.

Saya belajar SEO comot sana-sini dari internet dan segera saya terapkan pada website klien. Pada bagian riset keywords dan on-page SEO tidak ada masalah besar.

Di bagian link building saya bingung. Saya terjebak pada keinginan mendapatkan backlink sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Akhirnya saya membuat PBN (private blog network) menggunakan web 2.0 (blogspot, tumblr, squidoo, soup.io, dll).

Hasilnya saya gagal, visitor dan konversi situs klien saya tidak ada peningkatan.

Setelahnya saya terus mencari ilmu SEO yang utuh, terutama white hat. Saya mulai belajar dari beberapa praktisi SEO yang keren seperti Brian Dean dari Backlinko dan Chris Lee dari RankXL dan… Ryan Stewart dari Webris.

Webris mempunyai kursus link building berbayar, tapi menggratiskan beberapa modulnya. Saya mendaftar yang versi gratisan dan mulai belajar dari video-videonya.

Kursusnya juga mengajarkan bagaimana membentuk sebuah tim SEO yang bisa menangani beberapa project sekaligus. Timnya terdiri dari leader, outreach manager, link prospector, writer, dan graphic designer.

Saya merasa diri saya ini cocok menjadi link prospector dan saya pun mempelajarinya lebih jauh. Sebenarnya tertarik juga dengan outreach manager tapi bahasa Inggris saya payah.

Ryan Stewart mengatakan ia membangun tim dengan mempekerjakan freelancer yang ia dapatkan dari Upwork.com. Kebetulan saya juga aktif di Upwork. Segera saya melihat ini sebagai peluang.

Upwork adalah sebuah situs yang mempertemukan antara klien dengan freelancer.

Saya melakukan pencarian di Upwork dengan keywords “link prospector”. Sip, ada beberapa orang yang mencari link prospector. Saya segera mengirim penawaran ke mereka.

Dalam penawaran saya singgung bahwa saya pernah belajar dari kursus link building di Webris. Saya memperkirakan cukup banyak SEO agency yang ikut link building training di Webris. Mereka pasti suka jika freelancer yang mereka hire mempunyai pengetahuan dari tempat yang sama.

Semua penawaran saya dijawab kecuali satu, orang USA. Yang satu ini baru menjawab sekitar sebulan kemudian dan ternyata dia ikut training di Webris juga.

Saya pun di-hire olehnya dengan “gaji” sekitar $250 sebulan sebagai link prospector. Kerjanya cukup mudah, saya mencari situs-situs yang berpotensi dipasangi backlink. Tetapi bukan sekedar dipasangi begitu saja, maksudnya menggunakan teknik-teknik seperti guest post, scholarship, infographic, broken link, dsb.

Setelah setahunan bekerja, di akhir tahun saya diberi bonus sebesar $100. Saya senang, apalagi tak lama kemudian “gaji” saya dinaikkan menjadi lebih dari $500 sebulan. Kini pun saya masih bekerja untuk klien itu.

Banyak yang saya pelajari selama bekerja dengan klien tersebut. Saya jadi bisa melihat dan mengalami bagaimana sebuah SEO agency bekerja. Ilmu saya juga bertambah, terutama link building.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *