Akhirnya Saya Bisa Berkata: Saya Blogger, Bukan Maling

Istri saya pernah cerita, dengan nada agak sedih, beberapa tulisannya dikutip orang tanpa menyertakan sumber/kredit. Itu cuma dikutip, kalau di-copas mentah-mentah mungkin dia sangat sedih.

Saya pernah meminta ijin pada orang Belanda untuk memakai fotonya di blog saya, dan kira-kira begini jawaban dia:

“Setelah bertahun-tahun banyak orang Indonesia ‘meminjam’ foto saya tanpa ijin, saya senang sekali akhirnya ada orang yang meminta ijin sebelum memakainya.”

Di Indonesia pencurian konten memang sering terjadi.

Tulisan saya sendiri beberapa kali juga dicuri orang. Di-post tanpa ijin dan seringkali tanpa menyertakan sumber. Saat hal itu terjadi, biasanya saya introspeksi dan teringat masa lalu saya.

Saya dulu juga pernah mencuri banyak konten.

Godaannya Memang Berat

Di awal-awal blogging saya hampir tidak bisa menulis artikel yang bisa dibaca, apalagi enak dibaca. Meski saya pernah menulis beberapa cerpen dan dimuat di media cetak, tapi sangat kesusahan ketika menulis artikel.

Ditambah saya kesulitan mencari ide tulisan. Saya juga pelit mengeluarkan uang untuk membayar penulis. Diperparah lagi dengan ketidaksabaran saya yang buru-buru ingin mengisi blog dengan banyak konten dan segera menghasilkan uang.

Maka saya memilih solusi copy-paste konten orang lain. Kadang saya ambil sebagian konten dari situs entah milik siapa, tapi sebagian besar saya copas seluruhnya.

Dalam waktu singkat beberapa blog saya berisi puluhan konten. Blog saya pun mulai menghasilkan sedikit uang.

Meng-copas konten secara manual lama-lama saya rasakan kok capek. Setelah mencari-cari cara beberapa lama, mulailah saya bermain AGC.

Kini dalam sekejap saya bisa mengisi blog saya dengan ratusan konten. Setelah itu hampir tidak pernah saya urus. Enaknya, penghasilan saya jadi naik.

Saya senang sekali dan merencanakan membuat beberapa blog AGC lagi. Alhamdulillah, rencana itu tidak pernah kesampaian.

Banyak Pembenaran

Jauh di dalam hati saya tahu yang saya lakukan adalah pencurian konten. Saya sudah menjadi maling. Namun saya berhasil menipu diri sendiri dan dengan bangga menyebut diri saya blogger dan internet marketer.

Hampir setiap kali nurani saya berkata, “Sudah, berhenti, jangan mencuri lagi. Yang kamu lakukan itu salah.” Saya membantahnya dengan pembenaran konyol, semisal:

  • Konten kalau sudah diterbitkan di internet berarti ya jadi milik publik. Kalau tidak mau di-copas kontennya ya jangan ditaruh di internet.
  • Mengambil konten orang lain kan sejatinya tidak merugikan. Toh konten aslinya masih ada di blog orang itu.
  • Nanti kalau saya sudah kaya raya saya akan membayar orang untuk membuat konten.
  • Bodo amat, kalau saya tidak ambil konten orang lalu kapan blog saya jadi besar?
  • Buat apa susah-susah menulis, konten banyak di internet tinggal ambil.

Untunglah, ada hal-hal yang membuat saya berpikir ulang atas segala pembenaran di atas.

Belajar Menulis dari Istri

Istri saya adalah lulusan jurusan jurnalistik dari sebuah politeknik di Yogyakarta. Dia bekerja di bidang yang dicintainya yaitu jurnalistik.

Saya suka mengamati kerjanya.

Dia tidak pernah menulis asal-asalan, apalagi copas seenaknya. Kutipan dia sertakan sumbernya. Setiap artikel dan berita dia kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Sering dia mewawancara narasumber yang tempatnya jauh dari kantornya. Sebelum wawancara dia meriset topik dan narasumbernya, menyiapkan daftar pertanyaan, menyiapkan buku catatan, kamera dan alat perekam.

Dia juga senang mencari berita dan bahan artikel dengan cara meliput langsung. Kadang sampai ke luar kota, pernah juga ke luar pulau Jawa.

Singkatnya, saya menyaksikan susah payahnya dalam menulis.

Belajar pada Wartawan Senior

Takdir mempertemukan saya dengan pak Moentadhim, mantan wartawan Antara yang sekampung halaman dengan saya.

Beliau suka sekali menulis sejarah dan pernah menerbitkan buku jurnalistik dan buku sejarah. Kalau kamu ingin meningkatkan skill menulis, kamu bisa belajar dari buku beliau yang berjudul Jurnalistik Tujuh Menit.

Yang paling berkesan bagi saya dari pak Moentadhim adalah, kesabarannya dalam riset dan detilnya mencantumkan sumber.

Beliau telaten mengumpulkan data untuk tulisannya. Sabar mencari dan menunggu hingga data yang diperlukannya tersedia. Tak heran jika beliau bisa memiliki berbagai buku dan naskah langka.

Yang khas dari tulisan pak Moentadhim adalah di akhir tulisannya ada daftar pustaka yang menjadi sumber tulisannya. Penulisannya cukup detil, sampai-sampai ditulis juga kapan sebuah situs sumber diakses untuk diambil datanya.

Masihkah Saya Tega Mencuri Konten?

Bayangkan jika istri saya pergi jauh ke Lombok untuk meliput sebuah berita. Menghabiskan cukup banyak uang, waktu, tenaga, dan pikiran. Lalu tulisan hasil liputannya itu di-copas mentah-mentah oleh orang lain, betapa jahatnya kan?

Bayangkan jika tulisan pak Moentadhim di blog pribadinya dicuri orang. Padahal itu adalah hasil risetnya yang memakan waktu bertahun-tahun. Maling banget kan?

Saya sekarang tahu dibalik sebuah tulisan ada usaha dan pengorbanan penulis. Ketika sebuah tulisan diambil tanpa ijin, kita tidak hanya mencuri tulisan itu, tapi juga mencuri usaha dan pengorbanan orang lain.

Apapun alasannya mengambil yang bukan hak kita adalah terlarang. Kita mungkin bisa menipu diri kita dengan berbagai pembenaran, tapi tak akan pernah bisa menipu nurani sendiri. Lagipula kelak, segala sesuatu termasuk pencurian harus dipertanggungjawabkan.

Betapa pun sulitnya, membuat konten sendiri jauh lebih baik. Juga agar saat kita menyebut diri kita blogger, kita tak digelisahkan oleh nurani yang selalu berkata jujur.

4 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

March 22, 2018 - 01:19

Tks ulasannya mas. Sy baru mulai belajar ngeblog lagi. Dulu pernah, tapi berhenti. Salah satu alasannya, ya karena copy paste dan blog di AGC. Pernah salah satu cerita di blog, viral di fb, dan pas ditelusuri ada 5 blog yang ngepost, ada yang mencantumkan sumber dan ada yang tidak. Jadi lah semangat ngeblog menurun. Sekarang baru mulai belajar lagi, meski tema yg ditulis sudah banyak dibahas, tapi ditulis dg gaya penulisan sendiri. Terakhir sblm dipost, cek pake plagiarsm sampe hasilnya 100% unique. Apakah ini termsk copas? Tks

Reply

WebsiteManager

March 26, 2018 - 06:52

Bukan copas menurut saya itu mas. Tetap semangat ngeblog meski konten dicuri. Mau gmn lagi… banyak pencuri konten di sekitar kita, tapi itu bukan halangan. Btw makasih ya udah mampir.

Reply
November 12, 2018 - 05:11

Masalah plagiarism ya..hmm, saya pernah beberapa kali baca curhatan blogger yang konten bikinannya di-copy plek dan beberapa bagian sengaja diganti biar nggak ngetarani.

Denger-denger sih, nyesek memang pas konten yang sudah kita buat siang malam, dengan mudahnya ‘dicuri’ orang.

Namun, saya pribadi punya pandangan lain soal plagiarism ini. Inspirasinya datang dari salah satu blog langganan saya, zenhabits.net, tepatnya soal Uncopyright.

Pemikiran ini yang saya jadikan cara pandang saya soal plagiat terhadap konten-konten saya.

Buat saya, kalau memang ada yang mau nyontek, njiplak, ngedit, konten saya buat diposting ke blog dia, ya silahkan.

Kalau dengan cara itu pesan yang mau saya sampaikan terkirim dengan lebih baik, menjangkau lebih banyak orang, ya kenapa enggak. Bukannya itu bagus.

“Tapi kan dia nyuri.”

Enggak lah, dia hanya membantu menjadi kepanjangan saya dalam berbagi hal baik.

Tapi ya itu menurut saya. Tentunya setiap orang punya value-nya masing-masing kan.

😊

Anyway, tampilan blog ini kalau di versi mobile memang nggak penuh ya lebarnya? Mampet banget ke tengah.

Reply

WebsiteManager

November 12, 2018 - 05:42

Iya mas, orang punya value masing2 dan saya menghormati juga. Soal plagiarism kaya gini emang sensitif sih, gara2 tulisan ini ada yg ngajak berantem juga karena beda pendapat wkwkwkkw.

Konten saya juga di copas sih dan paling saya biarin kalo cuma 1-5. Biasanya kalau yg copas tujuannya karena merasa tulisan yang dia bagikan bermanfaat buat reader-nya, biasanya orang yg kaya gini sih minta ijin.

Yg gak minta ijin (kaya saya dulu) biasanya yg suka main AGC, copasnya gak cuma satu tapi bisa separo-seisi blog diambil, dan tujuannya bukan buat nyebar manfaat tapi nyari earning. Nah, yg copasnya sampai puluhan tulisan kaya gini biasanya gak saya relain, paling saya takedown pake blasty, kalo lagi gak males.

Sebenarnya solusinya simple menurut saya, tinggal minta ijin aja. Blog saya yg lain juga sering make konten orang, tapi saya ijin, dan hasilnya gak ada yg nolak ngijinin bahkan saya dikasih lebih. Dikasih video (ada yg dibikinin video baru juga), foto, dan bahan2 tulisan lain buat ngelengkapin tulisan di blog saya. Ada yg nawarin ngobrol via skype juga kalo saya butuh data lebih. Hasil lainnya, saya dapat banyak teman baru, sampai ditraktir nonton juga.

Tul, di mobile kurang bagus tampilannya, masih nunggu update dari yg bikin theme. Makasih banyak ya mas udah mampir 🙂

Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *