On-Page SEO: Crawlability, Page Relevance, User Engagement

Saya membagi on-page SEO menjadi tiga kelompok berdasarkan tujuannya.

Crawlability

Bertujuan membuat website atraktif untuk “mengundang” Google bot, dan membuat website semudah mungkin diakses (di-scan dan di-index) oleh Google bot.

Mobile Friendly

  • Website harus tampil dan berfungsi dengan baik di smartphone dan tablet.
  • Cek apakah website kita sudah mobile friendly atau belum di https://search.google.com/test/mobile-friendly

Internal Links

Google mengindeks halaman-halaman website kita dengan cara menelusuri internal link antar halaman itu. Google juga menilai hierarki halaman website dari struktur internal link kita.

Internal linking yang baik diterapkan pada halaman-halaman yang setopik. Contoh internal links di website berbasis WordPress adalah fitur related posts dan prev/next post.

Publish Konten Secara Berkala

Google menyukai website yang memilik konten up to date dan menerbitkan konten secara berkala. Jika hal itu bisa dilakukan maka sangat baik. Tapi jika jadwal ngeblogmu tidak jelas juga tak apa, asal tetap menjaga kualitas konten.

Hapus Halaman yang Tidak Berguna dan/atau Duplicate Content

  • Jangan ada lebih dari 1 konten yang menargetkan keyword yang sama.
  • Hapus duplicate content.
  • Hapus halaman-halaman tidak penting, seperti: halaman tanpa konten, halaman dengan konten yang berkualitas rendah, halaman yang tanpa tujuan.

https

https adalah salah satu ranking factor Google. Jika kamu berpindah dari http ke https maka ada beberapa hal yang harus kamu lakukan, kapan-kapan Insya Allah saya bahas.

Submit Sitemap

Pengguna WordPress bisa menggunakan Yoast SEO plugin untuk membantu pengaturan sitemap.

  • Tentukan halaman-halaman yang tidak perlu diindeks oleh Google.
  • Buat XML sitemap yang berisi semua URL yang kita ingin Google mengindeksnya.
  • Submit XML sitemap ke Google Search Console.

Gunakan Schema Markup

Pengguna WordPress bisa memakai plugin Schema (by Hesham).

Page Relevance

Bertujuan membuat website kita serelevan mungkin dengan keywords/topik yang dioptimasi. Misalnya kita menargetkan keywords seputar topik wisata Bali. Jangan sampai saat Google bot mengunjungi website kita ia salah memahami topik website kita adalah reparasi komputer.

URLs

Contoh kita menargetkan primary keywords “resep pecel madiun”:

  • Halaman http://www.namadomainnn.com/resep-pecel-madiun di mata Google dipandang lebih penting dibanding halaman http://www.namadomainnn.com/jatim/masakan/resep-pecel-madiun. Karena semakin dekat URL sebuah halaman dengan root domain/homepage (http://www.namadomainnn.com/), maka lebih diutamakan/penting.
  • Gunakan primary keyword sebagai URL misal http://www.namadomainnn.com/resep-pecel-madiun
  • Idealnya URL menggunakan tidak lebih dari 5 kata.

Page Title Tags

  • Primary keyword harus ada di title tag, di posisi seawal mungkin (idealnya di kata pertama).
  • Letakkan beberapa secondary keywords di title tag jika mungkin. Caranya masukkan kata-kata dari secondary keywords, posisinya boleh agak acak.
    Contoh: kita menargetkan primary keyword “resep pecel madiun” dengan secondary keywords “resep pecel madiun komplit” dan “cara membuat pecel madiun”. Maka page title-nya “Resep Pecel Madiun Komplit: Bahan dan Cara Membuatnya”.

Header Tags

  • Tidak boleh ada lebih dari satu <h1> di sebuah halaman.
  • <h1> mengandung primary keyword.
  • <h2> idealnya mengandung primary keywords atau secondary keywords atau sinonim dari primary keywords atau dikombinasikan.
  • <h3>, <h4>, <h5>, <h6> digunakan untuk mengatur struktur konten. Bagus jika bisa mengandung secondary keywords, tapi jika tidak maka tidak masalah.

Keyword Density

Berapa persen keyword density yang ideal untuk konten kita?

  • Lakukan pencarian di Google menggunakan primary keywords, misalnya “resep pecel madiun”.
  • Buka website ranking 1-5 di Google SERP.
  • Satu per satu copy paste konten dari 5 website itu ke http://tools.seobook.com/general/keyword-density/ dan cek keyword density-nya (pilih plain text).
  • Catat besar masing-masing keyword density (primary dan secondary keywords).
  • Untuk masing-masing keyword, jumlahkan keyword density dan bagi 5, hasilnya adalah keyword density yang kurang lebih ideal untuk konten kita.
    Contoh keyword “resep pecel madiun” hasil keyword density: 1% + 0,7% + 0,88% + 1,66% + 1,2% = 5,44%. Lalu 5,44% : 5 = 1,088% maka keyword density ideal kita sekitar 1,088%.

Cara di atas hanya satu dari sekian banyak metode menentukan keywords density. Saya kadang memakai cara di atas, kadang memakai cara lain. Pun kadang mengabaikan keywords density ketika saya tahu sebuah konten secara natural sudah mengandung cukup primary keywords dan sinonimnya.

Latent Semantic Indexing (LSI)

Cara mendapatkan LSI ada beberapa:

  • Lakukan pencarian di Google menggunakan keywords misalnya “resep pecel madiun”.
    Di bagian bawah, di bawah “Searches related to resep pecel madiun” akan kita temukan beberapa keywords, itulah LSI.
  • Cek menggunakan https://lsigraph.com/
  • Cek menggunakan http://tools.seobook.com/general/keyword-density/

Catat semua LSI, dan masukkan sebanyak kita bisa ke dalam konten sealami mungkin.

Image Filenames & Alt Tags

Google bot tidak bisa membaca image (gambar, visual), ia hanya membaca nama file dan alt tag.

  • Sebisa mungkin filename sama dengan alt tag.
  • Untuk image pertama, gunakan primary keyword sebagai filename dan alt tag.
  • Tidak apa jika hanya image pertama yang dioptimasi, image lainnya perlakukan secara natural dan tetap mempunyai filename dan alt tag yang bisa dibaca oleh Google bot. Contoh, foto-236653.jpg tida berarti apa-apa buat Google bot, ubah agar lebih deskriptif misal menjadi orang-lagi-mancing.jpg.

Outbound Links

Outbond links (link ke website lain) sangat membantu Google melihat relevansi halaman sebuah website dengan topik/keywords yang kita optimasi.

Outbond links harus relevan dengan topik/keywords yang dioptimasi. Misal sebuah halaman yang membahas wisata bagus jika mempunyai link ke website penyedia tiket pesawat, tapi jelek jika mempunyai link ke website yang membahas tutorial forex.

Taruh setidaknya 1 atau 2 link yang mengarah ke website yang relevan dengan topik halaman kita.

Topic Relevance

  • Buat 3-4 artikel berkualitas yang topiknya relevan dengan primary keywords/artikel utama.
  • Taruh setidaknya 1 link di masing-masing artikel pendukung yang mengarah ke artikel utama.

User Engagement

Meningkatkan user engagement pada website kita akan meningkatkan rangking keywords.

Meta Descriptions

  • Buat meta description semenarik mungkin untuk memancing Google user mengunjungi halaman website kita.
  • Cek dan pelajari meta description kompetitor di halaman pertama SERP.
  • Gunakan trik untuk membuat orang penasaran, misalnya dengan menambahkan titik-titik di akhir kalimat.
    Contoh: Resep nasi pecel madiun ini kami dapatkan langsung dari penjual pecel ternama di Madiun. Kami juga membahas tips-tips yang jarang diketahui, misalnya…

Site Speed

  • Idealnya waktu loading website kita tidak lebih dari 5 detik.
  • Tes website speed menggunakan https://tools.pingdom.com/, jika speed di bawah 5 detik maka perbaiki.
  • Untuk mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki bisa gunakan https://developers.google.com/speed/pagespeed/insights dan https://www.dareboost.com
  • Cek juga website speed kompetitor, website speed kita harus lebih bagus dari mereka.

Media

  • Tambahkan image yang relevan ke dalam konten dalam jumlah yang cukup.
  • Jika mungkin, tambahkan video (YouTube, Vimeo, dll) ke dalam konten di posisi “above the fold”.
  • Jika website-mu berisi video-video, buat XML video sitemap dan submit ke Google.

Buat Orang Nyaman Membaca Konten Kita

Dalam menulis konten:

  • Gunakan kalimat yang pendek.
  • Gunakan paragraf yang pendek. Gunakan 1-3 kalimat saja per paragraf. Jangan lebih dari 3 kalimat kecuali kepepet.
  • Gunakan whitespace.
  • Variasikan format teks menggunakan bold, bullet points, italic, warna, dll.

Long Content

  • Tulis konten sepanjang 1000 kata lebih. Konten yang panjang mempunyai rangking yang baik di Google.
  • Isi konten berkualitas, tidak sekedar mengejar jumlah kata.
  • Tidak semua konten harus panjang.

Penutup

Tidak semua poin optimasi on-page di atas harus diterapkan. Saya sendiri kadang meninggalkan beberapa poin, karena jika diterapkan akan merusak konten (membuat konten kurang nyaman dibaca).

Misalnya keyword density. Jika mengejar jumlah keywords di dalam konten membuat tulisan tidak nyaman dibaca, saya meninggalkannya dan lebih memilih menjaga kualitas konten.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *