Cara Sederhana Branding Blogmu Agar Menonjol Di Lautan Blog

Kamu tahu kan jumlah blog sekarang ini banyak sekali. Di antara sekian ratus ribu, atau mungkin sekian juta blog tersebut bagaimana cara agar blogmu lebih menonjol dan punya ciri khas yang diingat orang? Salah satunya adalah dengan branding.

Saya menonton video mas Dery di Youtube channel Kasisolusi berikut ini:

Di video itu mas Dery menghadirkan narasumber luar biasa yaitu Pak Bi (Subiakto Priosoedarsono), seorang pakar branding dengan pengalaman lebih dari 50 tahun. Obrolan mereka memberikan ilmu bagaimana cara melakukan branding yang sederhana tapi powerful.

Ilmu yang saya dapat dari video itu saya coba pahami dan implementasikan pada blogging.

Brand dan Branding Blog

Brand adalah persepsi orang lain tentang blog kita. Di pikiran pembaca, blog kita dianggap blog yang bagaimana sih, yang mempunyai ciri khas apa?

Apakah blog humoris yang tulisannya membuat tersenyum dan tertawa. Apakah blog yang membantu pembaca mengatur keuangan. Atau blog yang membahas banyak hal secara sekilas-sekilas?

Sedangkan branding adalah kegiatan yang dilakukan untuk membangun brand. Kalau ingin membangun brand blog, kamu tentukan dulu blogmu ingin dikenal sebagai blog yang bagaimana?

Pak Bi memberi contoh di sebuah jalan berderet 10 warung sate, katakanlah salah satunya adalah milikmu. Ketika kamu ingin warungmu dikenal sebagai warung sate yang ramah, branding yang harus kamu lakukan adalah murah senyum.

Dari mulai tukang parkir, pelayan, pencuci piring, tukang masaknya, pemiliknya semua harus murah senyum pada pembeli (branding). Lambat laun akan terbentuk persepsi di pikiran pelanggan bahwa warung satemu adalah warung sate yang ramah (brand).

Saat saya menulis artikel ini blog saya sedang dalam proses rebranding. Saya ingin Pambarep.com ini dikenal sebagai blog yang membahas SEO dan blogging khususnya untuk blogger pemula (brand). Karenanya artikel-artikel yang saya buat harus bertema blogging dan SEO yang bisa dipahami dan dipraktekkan oleh blogger pemula (branding).

Kalau kamu misalnya ingin blogmu dikenal sebagai blog yang membahas parenting untuk remaja (brand). Maka cara branding-nya secara sederhananya kamu fokus menulis tentang parenting untuk remaja.

Rumus Branding Untuk Nama Blog

Pak Bi berbagi rumus yang sederhana tapi keren bagaimana cara membuat nama usaha/produk menjadi brand. Rumus tersebut bisa lho diterapkan untuk branding nama blog.

Rumusnya adalah Brand = Value + CTA.

Value gampangnya adalah manfaat spesifik apa sih yang ingin diberikan blogmu ke pembaca? CTA (call to action) adalah aksi atau tindakan agar bisa memberikan value tersebut.

Contoh Kasisolusi. Value = solusi, CTA = kasih (memberi), sebagai contoh kurang lebih artinya adalah memberi solusi untuk permasalahan bisnis usaha kelas menengah.

Contoh lain adalah Rankxl.com, salah satu blog favorit saya yang sekarang sudah tidak ada. Value = rank (rangking), CTA = XL (besar). Artinya kurang lebih berbagi tips agar bisa menaikkan rangking keyword ke posisi atas (top 3) sehingga blog bisa mendatangkan trafik organik dan penghasilan yang besar.

Nah, sudah ada gambaran kan bahwa rumusnya bisa diterapkan untuk nama domain sekaligus nama blog? Sesuai petuah pak Bi, jika nama sebuah blog sudah punya value dan CTA maka sudah jadi brand.

Namun bagaimana jika nama blog terlanjur tidak mempunyai value dan CTA. Misalnya blog yang memakai nama pribadi sebagai nama domain dan nama blog. Atau seperti blog saya ini yang namanya Pambarep.

Pambarep.com dulu niatnya saya pakai buat jualan jasa SEO, tapi terbengkalai tak terurus. Nama Pambarep sendiri adalah bahasa Jawa yang artinya anak pertama. Maksudnya saya ingin menjadikan rangking website klien saya sebagai yang pertama di SERP.

Masalahnya yang tahu arti nama itu cuma saya.

Apalagi setelah saya memutuskan untuk hampir total berhenti menjual jasa SEO. Saya ingin blog saya fokus membantu blogger pemula, tentu saja nama Pambarep makin tidak jelas dan tidak nyambung dengan value yang saya tawarkan.

Untuk nama blog yang tidak mempunyai value dan CTA, pak Bi memberi jalan keluar yaitu membuat tagline yang memiliki value dan CTA. Mantap!

Pikiran saya langsung berbinar saat mendengar hal itu. Tentu saja langsung saya terapkan ke blog saya.

Pertama saya menentukan value apa sih yang ingin Pambarep.com berikan pada pembacanya? Saya ingin blog saya bisa membantu blogger pemula dalam hal blogging dan SEO agar blog mereka lebih cepat mendapatkan trafik organik dan penghasilan. Artikel saya harus bermanfaat dan disampaikan secara sederhana sehingga mudah dipahami dan lebih mudah dilakukan oleh pemula.

Jadi value yang ditawarkan blog saya adalah: blogging dan SEO. CTAnya: solusi sederhana. Tagline-nya: solusi sederhana blogging dan SEO.

Lalu apakah boleh nama blog yang sudah memiliki value dan CTA ditambahi tagline? Boleh saja, malah akan memperkuat pesan brand-nya.

Silent Branding

Saya jadi berpikir jangan-jangan selama ini saya melakukan silent branding, dalam arti yang negatif.

Branding adalah membangun persepsi orang terhadap blog kita. Jadi sangat mungkin diam-diam tanpa disadari selama ini pembaca blog kita sudah mempunyai persepi brand blog kita itu seperti apa.

Blog saya misalnya lama tidak saya urus dengan baik dan isinya pun dulu campur-campur ada cerpen, software, blogging, SEO, dll. Sehingga selama ini bisa jadi di pikiran mereka yang pernah berkunjung ke blog saya, terbentuk persepsi (brand) bahwa blog saya adalah blog tidak jelas dan tidak terawat.

Mungkin kamu ngeblog dengan niat menulis tentang wisata. Ternyata tulisan di blogmu sebagian besar membahas destinasi wisata air terjun karena kamu memang paling suka dengan air terjun. Sehingga tanpa kamu sengaja di benak pembacamu brand blogmu adalah blog wisata air terjun.

Yuk Belajar Branding Lebih Mendalam

Yang saya bahas ini hanya sekelumit dari ilmu branding yang bisa diterapkan pada blog. Namun sedikit ilmu dari pak Bi tersebut bagi saya terasa sekali manfaatnya. Apalagi jika diberi kesempatan belajar dari beliau ilmu branding yang lebih lengkap.

Kabar baiknya, pak Bi membuka online workshop yang bakal mengajari kamu agar cepat bisa membuat brand sendiri yang mudah diingat orang. Kamu bisa daftar workshop-nya melalui link berikut https://bit.ly/bmspakbi

Image by Insa Osterhagen from Pixabay

Dapatkan ebook Blog to Profit

Belajar bagaimana mendapatkan trafik organik dan penghasilan secepat mungkin untuk blogger pemula.

Mau dong!

25 Comments

  1. Hmmm.. berarti blog wajib niched yah.. kecuali kita punya resources besar buat bayar banyak penulis kaya media, jadi tetap kuat meski blognya gado-goda.. atau mungkin kalaupun gado-gado, ada satu topik utama yang lebih dominan.. begitu kah Kang Pambarep?

    1. Tergantung selera juga sih kang, nggak wajib. Kalau saya memang suka blog niche spesifik.

      Kalau blog gado-gado menurut saya nggak harus ada topik yang dominan. Saya lebih suka menganjurkan topik-topiknya diambil dari keahlian si blogger. Jadi biar nggak nulis apa yang dia nggak pahamin. Sehingga meski nichenya campuran, masing-masing topik bahasannya tajam.

      Dan kalau udah jalan sekian lama, kalau mau bisa dicek topik mana yang sukses mana yang kurang sukses, nanti dari situ bisa diputusin mau fokus ke topik yang sukses aja atau topik yang kurang sukses lebih dikencengin optimasinya, dsb.

  2. saya blogger pemula. benar-benar masih bingung dengan dunia per-blog-an. makanya blog saya masih kosongan karena untuk atrget jangka pendeknya sendiri, bisa nulis tiap hari dulu. blog saya juga masih umum,kalau ada hal yang saya sukai itu terkait dengan sejarah. mikir-mikir juga kalo milih niche sejarah karena sudah ada beberapa website sejarah yang sudah kredibel dan kompeten.

    1. Gpp mbak, menurut saya kalau suka sejarah tulis aja di blog. Seiring waktu nanti kualitas blog akan meningkat dan bisa bersaing dengan yang sudah kredibel dan kompeten. Karena kan pengetahuan kita nanti kalau sering nulis dan riset dengan sendirinya akan meningkat juga.

      Atau bisa juga ngambil tema sejarah yang jarang dibahas website lain. Misalnya sejarah kuliner, sejarah beladiri tradisional, sejarah fashion tradisional, mainan tradisional. Contoh sejarah kuliner itu menarik, kuliner Indonesia kan dapat pengaruh dari Timur Tengah, Cina, India, dll. Kue putu misalnya, ternyata juga ditemui di India dan Srilanka.

      1. makasih bnyk , mas, atas saran-sarannya

    2. hmmm kalo blog sejarah, kayanya cocok di mix dengan topik wisata, atau bahasan film-film sejarah kolosal. Sepertinya seru mengaitkan sejarah dengan cerita-cerita fiksi atau tempat-tempat wisata. Hasilnya seperti film Tutur Tinular (Kisah Arya Kamandanu yang diselipkan ke sejarah kerajaan Majapahit). Topik sejarah selalu menarik, dalam kaitannya dengan kedigdayaan tokoh-tokoh besar masa lalu. Itu pilihan niche yang bagus menurutku, agar generasi sekarang punya literasi yang enak dibaca mengenai sejarah.

      1. Ide bagus nih, unik. Jadi tempat wisata dan cerita fiksi dibahas sisi sejarahnya.

  3. whoaa ternyata nama blog sendiri seharusnya sudah dipikirkan yaa dari awal. Saat buat ga kepikiran, jadinya pakai nama saya sajaa 😀 tapi kalo bahas masalah niche blognya, saya rasa saya sudah cukup konsisten dengan niche travel, dimana konten yang didalamnya pun adalah terkait travel. Tentunya harus terus ditingkatkan lagi kualitasnya hehe Makasih yaa untuk infonya

    1. Sama-sama mbak. Pakai nama sendiri juga bagus kok.

  4. kelemahan saya adalah kurang konsisten dalam membuat postingan sesuai niche blog. mungkin itu juga sangat berpengaruh terhadap branding ya..

  5. Wah sangat membantu untuk para blogger nih. Terimakasih sharing nya. Sy termasuk blogger yg masih belajar mengenai branding dan SEO. Saking menjunjung tinggi niche saya punya dua blog supaya gak tercampur antara niche yang satu denyan yang lain. Bisa nih bakalan sering-sering berkunjung ke blog ini.

  6. terima kasih sharing ilmunya, PR selanjutnya branding diri nih, blog saya memang menggunakan nama sih karena memang tujuannya untuk bercerita tentang aktivitas saya setelah menjadi ibu, merenung lagi untuk langkah selanjutnya

    1. Sama mbak, blog saya ini juga pakai nama yang umum. Kelebihannya kalau pakai nama sendiri bisa mudah bermanuver, misalnya ganti atau tambah niche.

  7. banyak belajar cara branding blog dari artikel ini, terlebih di era persaingan blog saat sekarang.

  8. Sebagai nyubi blogger saya masih harus banyak banget belajar nih! BW begini banyak menambah wawasan buat saya

  9. Tujuan ketika membuat blog ini nyatanya bisa berubah seiring berjalannya waktu dan jam terbang yaa, kak..
    Aku yakin, dengan passion yang dimiliki, semakin berfokus pada sesuatu akan memudahkan pembaca dan tracking google dalam memberikan rekomendasi bacaan yang sesuai bagi yang membutuhkan informasi. Tapi kalau masalah SEO, kak Purwanto uda paling jago.

    Tapi memang branding ini bisa gak sih, kak.. kita sangat berseberangan antara satu blog dengan blog yang lainnya?
    Apakah kudu bikin sosial media bagi masing-masing juga?

    1. Betul mbak tujuan bisa berubah karena ngeblog memang dinamis. Itu enaknya blog, bisa bermanuver sesuai kebutuhan.

      Blog yang saya kelola sendiri brandnya berbeda satu sama lain karena niche audiensnya juga beda. Selain pambarep ini ada fanicat niche kucing untuk cat lover indonesia, ada yang untuk pet lover internasional, ada yang niche kuliner juga terutama merekomendasikan alat-alat masak, dll.

      Untuk media sosial bagi saya pribadi saat ini nggak fokus disitu karena nggak sempat. Pengen juga bikin medsos yang berbeda untuk blog yang berbeda. Tapi itu berat banget apalagi kalau blognya lebih dari satu. Jadi saya fokus membangun blog dulu aja.

  10. terima kasih informasinya kak. berguna banget nih, untuk saya yang lagi belajar branding blog

  11. saya tergolong baru di dunia blog, tapi rencananya mau fokus di satu tema saja. sesuai dgn yg disampaikan di artikel di atas.

  12. ngebranding blog gampang-gampang susah sih ya, bahkan ketika sudah memilih domain dengan nama yang berfokus pada niche tertentu, terkadang ditengah perjalanan karena alasan tertentu pingin menulis di luar niche awal yang kita pilih, yang secara tidak langsung juga akan mengurai value dari brand blog kita, saya sendir di blog wisatarakyat.com dalam prakteknya juga menyelelipkan beberapa postingan diluar pembahasan wisata yang biasanya dari penawaran atau permintaan content placment

  13. Personal branding ini perlu banget ya, kak, spy lebih personal bangeet. Thanks tips nya kak…harus lebih berpikir lagi, nih, biar punya ciri khas.

  14. Yupss, saya sangat setuju, dan tentunya informasi ini sangat membantu meningkatkan pemahaman tentang pemaksimalan blog…

  15. Wah terima kasih sudah sharing. Sangat informatif dan bermanfaat untuk blogger baru seperti saya.

  16. Dulu, waktu mulai memutuskan menulis blog saya tertarik dengan belajar SEO. Tetapi semakin kesini ilmu SEO itu ternyata luas. Menurut saya SEO juga sebagai cara branding blog jika dilaksanakan dengan baik. Terima kasih informasinya. Akhirnya nemu blog yang bahas blogging.

  17. Branding blog emang penting banget sih, jam terbang blog juga ngebantu. Rasanya kalau ada yg nyari blog di google trus ngarahin ke blog kita langsung itu sesuatu bangett, bahagiaaa

Leave a Comment

Your email address will not be published.